ELISABETH BILLYWILLING; MISI MENCARI IBU YANG HILANG
SEMANGAT YANG MEMBARA
"Mengapa kau tidak bisa memunculkan cahaya matahari untukku, wahai awan hitam yang penggerutu"
Awan itu melihat dan kemudian bersedih dan berkata pada Elisabeth
"Apakah orang yang mendapat kesempatan? Jika Ia maka kamu tidak boleh meminta ku untuk menampakkan cahaya matahari untukmu, banyak orang yang datang kesini dan memintaku untuk menampakkan cahaya matahari kepada mereka dan kemudia mereka berlalu pergi begitu saja"
Elisabeth terdiam. Kebigungan dengan jawaban awan hitam tersebut, Elisabeth berbalik bertanya dengan sedikit penasaran kepada awan itu
"Siapakah namamu Tuan?"
"Aku Eriko, tapi orang-orang biasa menyebutku awan hitam penggerutu" "Apakah aku terlihat seperti itu"
"Tentu tidak tuan Erik, Kau hanya belum menemukan kebahagiaanmu saja" ucap Elisabeth sambil tersenyum ke arah Erik
"Begitukah? Aku belum pernah mendengar lagi kata BAHAGIA semenjak terkahir kali gadis muda persis sepertimu datang kesini"
"Maksudmu Ibuku Margareth?"
"Margareth sudah mempunyai anak" Ucap Erik kaget
"Tentu tuan, aku adalah anak dari Margareth, Elisaberth. Senang bertemu denganmu Tuan"
Mendengar hal itu Erik menjadi khawatir dan segera menyuruh Elisabeth untuk bergegas masuk kedalam hutan.
"Elisabeth, bergegaslah masuk ke hutan sebelum dia datang"
"Dia? Dia siapa yang kau maksud Tuan?"
"Dia si pengendali cuaca, dialah yang menyambar semua orang yang mendapat kebahagiaan, dan membuat mereka menjadi setengah hidup?"
"Pengendali cuaca ? Setengah hidup? menyambar?" Elisabeth terdiam dan mulai menatap Erik kebingunan "Apa maksudmu ini semua berkaitan dengan Ibuku Tuan?"
Erik yang tidak menyangka bahwa Si pengendali cuaca melakukan itu kepada Margareth mulai bertanya dengan nada agak tinggi kepada Elisabeth
"Apakah Ibumu masih ada Elisabeth?"
"Ibuku sudah tiada tuan, ayahku bercerita bahwa malam dimana aku dilahirkan hujan sangat deras dan kilat menyambar-menyambar, sesaat setelah aku lahir kilatan petir menyambar ibu dan langsung meninggal"
Mendengar hal itu Erik sangat jengkel dengan perlakuan si pengendali cuaca
"Ah seharusnya aku tidak membiarkannya menikahi pria bodoh itu"
"Maksudmu ayahku Tuan? Joseph? Dia pria yang baik "
tepat setelah Elisabeth berkata demikian Erik langsung memotong pembicaraan Elisabeth
"Dialah yang membuatmu jatuh cinta dan meninggalkan dimensi ini"
"Benarkah? Ku kira ibu dan ayah bertemu di gereja"
"Heh, asal kau tau Ayah mu adalah orang yang mendapat kesempatan juga, Ayah mu datang ke dimensi ingin mencari sosok perempuan dimimpinya dan dia sangat berharap akan hal itu, dan dia bertemu dengan ibumu Margareth, mereka jatuh cinta, dan Dia membawa Margareth kembali ke dunia kalian, dunia yang penuh pengharapan bahkan tidak pernah ada kesempatan"
Mendengar itu Elisabeth semakin penasaran dan Elisabeth meminta Erik untuk melanjutkan cerita tentang Ibunya, Margareth
"Lanjutkan Tuan"
"Ibumu datang kesini karena berkesempatan untuk mencari kebahagiaan, Ibumu, George, dan Luna"
"Luna?"
"yah, Luna"
"Aku bahkan tak tau kalau Ibu mempunyai saudari"
"Itu karena tidak ada yang pernah tau isi hati Luna" ..... "Mereka bertiga datang kesini karena memiliki kesempatan untuk mendapatkan kebahagiaan" "Paman George ingin sekali menjadi pemuka Agama di dunia kalian, Ibumu ingin sekali memiliki anak perempuan yang akan dia namai Elisabeth yang sekarang adalah dirimu, dan Luna..."
"Luna kenapa tuan? Apa tujuannya?"
"Luna ingin menjadikan kaum kalian budak dan ingin balas dendam kepada semua orang yang pernah menyakitinya"
"Tetapi siapa yang menyakitinya tuan?"
"Dia adalah Ayahmu, Elisabeth. Luna jatuh cinta kepada ayahmu, namun ayahmu lebih mencintai ibumu Margareth, karena dendam Luna akhirnya memisahkan diri dari George dan Ibumu dan berlari ke inti hutan yang paling dalam dimana hanya ada kegelapan didalam sana"
Elisabeth yang kaget sekaligus penasaran akan cerita tersebut terus mendengarkan dengan seksama
"Luna menangis tanpa henti selama berhari-hari hingga akhirnya air mata merubah sekeliling pulan ini menjadi ombak dan badai, dan gertakan gigi luna menjadikan gemuruh ombak yang sangat besar, serta kilatan yang amat dasyat itu berasal dan hembusan nafas Luna, maka dari hari itu Luna dijuluki sebagai Si pengendali cuaca"
"Jadi aku harus mencari ibuku dengan menghadapi saudari dari ibuku sendiri?"
"Jika itu tekad dan harapanmu maka itulah yang harus kau hadapi"
"Tapi Erik.. Kenapa paman ku tak bisa kembali kesini?"
"George? Yah di tak bisa kembali lagi, di hari dimana Luna menyambar tepian pulau ini, George bersumpah bahwa Dia tidak akan menginjakkan kaki ke dimensi ini lagi, dan luna pun tak bisa ke dimensi kalian." "Tapi Luna itu licik, malam dimana kamu dilahirkan, Luna menangis dan menggertak giginya secara terus-terusan, nafasnya sangat cepat seperti cheetah yang berlari menangkap mangsanya" "Jika malam itu benar ibumu meninggal karena terkena sambaran petir maka Luna berhasil mengirimkan kemurkaannya kepada keluargamu"
Mendengar itu raut wajah Elisabeth menjadi sangat sedih dan berharap ada jalan untuk menemukan ibunya
"Adakah cara yang bisa aku lakukan untuk mendapatkan kembali ibu saya Tuan?"
"Ada caranya, kamu hanya perlu mencari Ibumu"
"Dimana?"
"Nah itu yang aku tidak tau Elisabeth, semua orang yang datang memiliki jalannya sendiri begitu juga denganmu, kamu hanya bisa menemukan ibumu dengan cara mu sendiri" "Semoga kamu berhasil Elisabeth"
"Baiklah terimakasih Tuan Erik, semoga kamu bahagia selalu yah"
Dan begitu Elisabeth berlalu meninggalkan Erik ditepi pulan tersebut dan melangkah masuk kedalam pulau itu.
Komentar
Posting Komentar