ELISABETH BILLYWILLING; MISI MECARI IBU YANG HILANG Langsung ke konten utama

Unggulan

ELISABETH BILLYWILLING; MISI MENCARI IBU YANG HILANG

 SEMANGAT YANG MEMBARA Elisabeth terbangun di atas perahu rakitan yang mengantarkannya ke tepi pulau yang tak berpenghuni. Elisabeth terbangun karena kepalanya terasa sangat ringan, ternyata rambut Elisabeth telah rapi terikat seperti orang yang mengurus rambutnya tiap hari. Elisabeth kemudian turun dari perahu rakit itu dan menengadah ke langit, dilihatnya lah awan hitam diatas dan Elisabeth berkata "Mengapa kau tidak bisa memunculkan cahaya matahari untukku, wahai awan hitam yang penggerutu" Awan itu melihat dan kemudian bersedih dan berkata pada Elisabeth "Apakah orang yang mendapat kesempatan? Jika Ia maka kamu tidak boleh meminta ku untuk menampakkan cahaya matahari untukmu, banyak orang yang datang kesini dan memintaku untuk menampakkan cahaya matahari kepada mereka dan kemudia mereka berlalu pergi begitu saja"  Elisabeth terdiam. Kebigungan dengan jawaban awan hitam tersebut, Elisabeth berbalik bertanya dengan sedikit penasaran kepada awan itu "Siapakah ...

ELISABETH BILLYWILLING; MISI MECARI IBU YANG HILANG

 PAGI YANG PENUH HARAPAN

Pagi itu angin terasa sejuk diikuti suara burung kecil yang tidak terlalu nyaring ditelinga. Karpet merah tangga rumah tua serta lampu antik khas tahun 18an menghiasi ruang tengah rumah itu. disebelah barat rumah tua itu berdiri seorang gadis yang umurnya sekitar 18 sampai 19 tahun; menatap keluar jendela menyaksikan indahnya langit dengan sinar surya yang perlahan muncul. Yah, dia Elisabeth. Seorang gadis yang berasal dari keluarga yang sudah kaya sejak turun temurun. Elisabeth Billywilling tidak memiliki adik ataupun kakak, Elisabeth hidup sendiri bersama ayahnya yang seorang pewarisn besar di wilayah mereka. Elisabeth mendabakan hidup bebas dengan tertawa dan senyum yang lepas, memakai pakaian favorit yang di sukai dan juga memakan semua makanan yang Ia temui. Tapi itu tidak bisa Elisabeth lakukan karena Elisabeth tidak banyak berbicara sedari kecil. Ayah Elisabeth Ialah Joseph Billywilling adalah seorang yang pemurung, hari-harinya dihabiskan dengan duduk meratapi nasib kisah cintanya yang tidak begitu berjalan mulus. Menangis, mengurung diri, penyesalan, menyangkal dan juga tidak ingin mendengar nasehat orang lain membuat Joseph seperti manusia yang kehilangan akal sehat. Ibu Elisabeth telah lama meninggal akibat sambaran petir tepat dimana saat Elisabeth lahir. Yah, Elisabeth pasti merasa bersalah, ditambah lagi Elisabeth tidak mengenal sosok Ibunya dari kecil dan ayahNya yang sering murung membuat Elisabeth enggan bersosialisasi dengan dunia luarnya. 

Hari ini tepat dimana peringatan Ibu Elisabeth Meninggal dunia, banyak orang yang datang untuk mengunjungi Elisabeth dan Joseph. Namun, Elisabeth sama sekali tidak membuka pintu kamarnya bahkan hanya untuk semenit. Elisabeth merasa dia tidak pantas untuk berada di sekeliling orang yang mencintai Ibunya. Elisabeth merasa hidupnya bukan disitu dia ingin menghilang dan pergi dari dunia itu. Tiba-tiba Pamannya Elisabeth (saudara dari ibu Elisabeth) yang seorang pendeta datang mengetuk pinta kamar Elisabeth. 

Elisabeth        : (Mendengar suara pintu diketuk perlahan seraya memalingkan wajah kearah pintu)                                 "Siapa disana? Apa kalian tidak bisa mengerti? Aku tidak ingin keluar!" ucap Elisabeth                            dengan kesal

Paman George: "Elisabeth, Apakah kamu sejahat itu sekarang dengan paman?" ucap paman dengan                                    lembut seraya mendekatkan telinganya ke pintu kamar Elisabeth

Elisabeth          : "PAMAN" ucap Elisabeth dengan nada agak marah sekaligus gembira.

                          "Kenapa paman harus mengetuk seperti mereka? paman membuatku kesal." Sembari                                   melihat keadaan paman dari ujung kakinya sampai ujung rambutnya.

                          "Kau terlihat pucat paman, apakah kau membawa obatmu? Apa kau sudah makan?"


Paman George mengidap sakit jantung yang membuatnya selalu berkeringat dan juga pucat pasih seperti orang yang melihat setan. Paman goerge tidak terlalu tinggi. Pundaknyanya yang agak bungkuk dan kepala sudah beruban dan agak sedikit botak membuat Paman George terlihat agak kurang sehat.

Paman George:  "Elisabeth, kau masih sama seperti yang dulu yah ternyata" ucap paman sedikit                                         senyum dan tertawa kecil ke arah Elisabeth 

                           "Sebaiknya sebentar malam kau harus berangkat ke sana, sudah waktunya untuk kau                                 mencari kebenaran malam itu, Paman bermimpi semalam tentang kamu, kamu sudah                              sangat dekat"

Elisabeth        : "Paman aku ingin memberitahu satu hal, aku pasti akan menemukan Ibu" ucap Elisabeth                             berjanji dan sedikit percaya diri.

                          "Tapi apakah ayah akan baik-baik saja disini? Siapa yang akan melihatnya?" Ucap                                    Elisabeth sedih dan agak ragu meninggalkan ayahnya itu

Paman George : Sedikit tertawa dan senyum ke Elisabeth "Ah, Pria tua itu, dia aman bersamaku dia                                    bahkan takkan ingat sedikitpun tentang perjalananmu nanti"

Elisabeth dan Paman George percaya bahwa Ibu Elisabeth belum meninggal dan hanya sedang berjalan-jalan ke negri yang jauh, jasad Ibu Elisabeth pun atas permintaan Joseph; tidak dimakamkan, melainkan disimpan dalam suatu ruangan, dan anehnya jasad itu tidak membusuk ataupun berubah bentuk. jasadnya masih tinggal utuh seperti saat malam Elisabeth di lahirkan.

Dan begitupun mereka mengahabiskan pagi didalam kamar itu serta memandang matahari yang sudah agak terik dan angin sudah semakin kencang. 

Komentar