Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
ELISABETH BILLYWILLING; MISI MECARI IBU YANG HILANG
PAGI YANG PENUH HARAPAN
Pagi itu angin terasa sejuk diikuti suara burung kecil yang tidak terlalu nyaring ditelinga. Karpet merah tangga rumah tua serta lampu antik khas tahun 18an menghiasi ruang tengah rumah itu. disebelah barat rumah tua itu berdiri seorang gadis yang umurnya sekitar 18 sampai 19 tahun; menatap keluar jendela menyaksikan indahnya langit dengan sinar surya yang perlahan muncul. Yah, dia Elisabeth. Seorang gadis yang berasal dari keluarga yang sudah kaya sejak turun temurun. Elisabeth Billywilling tidak memiliki adik ataupun kakak, Elisabeth hidup sendiri bersama ayahnya yang seorang pewarisn besar di wilayah mereka. Elisabeth mendabakan hidup bebas dengan tertawa dan senyum yang lepas, memakai pakaian favorit yang di sukai dan juga memakan semua makanan yang Ia temui. Tapi itu tidak bisa Elisabeth lakukan karena Elisabeth tidak banyak berbicara sedari kecil. Ayah Elisabeth Ialah Joseph Billywilling adalah seorang yang pemurung, hari-harinya dihabiskan dengan duduk meratapi nasib kisah cintanya yang tidak begitu berjalan mulus. Menangis, mengurung diri, penyesalan, menyangkal dan juga tidak ingin mendengar nasehat orang lain membuat Joseph seperti manusia yang kehilangan akal sehat. Ibu Elisabeth telah lama meninggal akibat sambaran petir tepat dimana saat Elisabeth lahir. Yah, Elisabeth pasti merasa bersalah, ditambah lagi Elisabeth tidak mengenal sosok Ibunya dari kecil dan ayahNya yang sering murung membuat Elisabeth enggan bersosialisasi dengan dunia luarnya.
Hari ini tepat dimana peringatan Ibu Elisabeth Meninggal dunia, banyak orang yang datang untuk mengunjungi Elisabeth dan Joseph. Namun, Elisabeth sama sekali tidak membuka pintu kamarnya bahkan hanya untuk semenit. Elisabeth merasa dia tidak pantas untuk berada di sekeliling orang yang mencintai Ibunya. Elisabeth merasa hidupnya bukan disitu dia ingin menghilang dan pergi dari dunia itu. Tiba-tiba Pamannya Elisabeth (saudara dari ibu Elisabeth) yang seorang pendeta datang mengetuk pinta kamar Elisabeth.
Elisabeth : (Mendengar suara pintu diketuk perlahan seraya memalingkan wajah kearah pintu) "Siapa disana? Apa kalian tidak bisa mengerti? Aku tidak ingin keluar!" ucap Elisabeth dengan kesal
Paman George: "Elisabeth, Apakah kamu sejahat itu sekarang dengan paman?" ucap paman dengan lembut seraya mendekatkan telinganya ke pintu kamar Elisabeth
Elisabeth : "PAMAN" ucap Elisabeth dengan nada agak marah sekaligus gembira.
"Kenapa paman harus mengetuk seperti mereka? paman membuatku kesal." Sembari melihat keadaan paman dari ujung kakinya sampai ujung rambutnya.
"Kau terlihat pucat paman, apakah kau membawa obatmu? Apa kau sudah makan?"
Paman George mengidap sakit jantung yang membuatnya selalu berkeringat dan juga pucat pasih seperti orang yang melihat setan. Paman goerge tidak terlalu tinggi. Pundaknyanya yang agak bungkuk dan kepala sudah beruban dan agak sedikit botak membuat Paman George terlihat agak kurang sehat.
Paman George: "Elisabeth, kau masih sama seperti yang dulu yah ternyata" ucap paman sedikit senyum dan tertawa kecil ke arah Elisabeth
"Sebaiknya sebentar malam kau harus berangkat ke sana, sudah waktunya untuk kau mencari kebenaran malam itu, Paman bermimpi semalam tentang kamu, kamu sudah sangat dekat"
Elisabeth : "Paman aku ingin memberitahu satu hal, aku pasti akan menemukan Ibu" ucap Elisabeth berjanji dan sedikit percaya diri.
"Tapi apakah ayah akan baik-baik saja disini? Siapa yang akan melihatnya?" Ucap Elisabeth sedih dan agak ragu meninggalkan ayahnya itu
Paman George : Sedikit tertawa dan senyum ke Elisabeth "Ah, Pria tua itu, dia aman bersamaku dia bahkan takkan ingat sedikitpun tentang perjalananmu nanti"
Elisabeth dan Paman George percaya bahwa Ibu Elisabeth belum meninggal dan hanya sedang berjalan-jalan ke negri yang jauh, jasad Ibu Elisabeth pun atas permintaan Joseph; tidak dimakamkan, melainkan disimpan dalam suatu ruangan, dan anehnya jasad itu tidak membusuk ataupun berubah bentuk. jasadnya masih tinggal utuh seperti saat malam Elisabeth di lahirkan.
Dan begitupun mereka mengahabiskan pagi didalam kamar itu serta memandang matahari yang sudah agak terik dan angin sudah semakin kencang.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar